Islam telah masuk ke Indonesia, sejak abad pertama Hijriah, atau sekitar abad ke 7-8 Masehi. Demikian kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia yang diada kan di Medan, Sumatera Utara pada tahun 1963, lebih setengah abad yang silam.[1] Itu berarti bangsa Indonesia telah mengenal Islam sejak lama; paling tidak sudah empat belas abad yang lalu. Dengan demikian tidak heran bilamana mayoritas penduduknya memeluk Islam; agama ini masuk ke Indonesia, dibawa langsung oleh para pedagang muslim dari Arab,[2] bukan via Gujarat, India, pada abad ke-13 sebagai disebut oleh sumber-sumber Barat.[3] Fakta ini memberikan indikasi bahwa Islam yang sampai ke Indonesia adalah ajaran yang murni, tidak dicampuri oleh pikiran-pikiran atau ide-ide dari kepercayaan atau agama lain.

Fakta itu menginformasikan bahwa bangsa kita telah mengenal kitab suci Alqur′an sudah lama sekali sama dengan kehadiran Islam di Indonesia  sebagai telah disebut; namun kapan dimulai penerjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia tidak diketahui secara pasti. Tapi yang jelas terjemahan itu pasti ada, hanya saja pada  periode awal-awal itu belum tertulis, apalagi diterbitkan dalam bentuk buku. Adalah suatu yang sangat logis bilamana pada periode Walisongo sekitar abad XV terjemahan Alqur′an makin menonjol sesuai kebutuhan dakwah mereka, terutama untuk wilayah Jawa dan sekitarnya. Kondisi serupa di wilayah lain di luar Pulau Jawa, Sumatera, misalnya, juga tidak jauh berbeda dari yang dilakukan oleh Walisongo itu. Artinya mereka sama-sama melakukan penerjemahan kitab suci itu

[1]Hamka,”Masuk dan Berkembangnja Agama Islam di Daerah Pesisir Sumatera Utara” Risalah Seminar Sedjarah Masuknja Islam ke Indonesia, (Medan: Panitia Seminar, 1963), hh. 77-78. Kesimpulan ini sekaligus menganulir anggapan sejarahwan Barat yang pada umumnya berpendapat, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M. melalui Gujarat, India; tidak langsung dari Arabia.

[2] Ibid.

[3] H.Aboe Bakar Atjeh, mengutip dari buku Dr.B.J.O.Schrieke, berdasarkan catatan Marco Polo, menyebutkan “Islam masuk ke Indonesia ditetapkan dalam tahun 1292”. (ibid., h.100). Dalam konteks ini setidaknya ada lima teori yang diajukan oleh para sejarahwan yaitu Teori Cina, Teori Persia, Teori Maritim, Teori Gujarat dan Teori Mekah. Berdasarkan kesimpulan Seminar di Medan 1963 itu, maka Teori Mekah memiliki fakta sejarah yang lebih dapat dipercaya; yakni Islam masuk pertama kali ke Nusantara ini pada abad ke-7M. Dengan demikian gugurlah semua teori yang lain itu.(Rahmad Abdullah, Walisongo,Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa(1404-1482), (Sukoharjo, al-Wafi, 2015), cet. ke-1, h.33; lihat juga, M.C.Ricklefs, Sejarah Indonesia Moderen 1200-2004, (Jakarta, PT.Serambi Ilmu Semesta, 2005), cet. ke-2, h.27).

dari bahasa aslinya, Arab, ke bahasa warga yang akan mereka seru; tapi tentu bahasa yang mereka gunakan bukan  bahasa Jawa melainkan sesuai dengan bahasa warga yang mereka seru sebagaimana dilakukan oleh ‘Abd al-Ra′ûf al-Fansuri al-Sinkli, dari Aceh pada abad ke-17M dengan menerjemahkan kitab Tafsȋr al-Baydhȃwȋ ke dalam bahasa Melayu dengan judul Tarjumȃn al-Mustafid. Fakta ini memberikan bukti yang valid bahwa penerjemahan Alqur′an memang sudah sejak lama dilakukan oleh para ulama di Indonesia sesuai kebutuhan umat. Namun penerbitannya dalam bentuk buku, baru dilakukan pada periode moderen abad ke-17M. itu; ditandai dengan terbitnya Kitab Tarjumȃn al-Mustafid tersebut. Terus dilanjutkan oleh Nur al-Dȋn ar-Raniri juga dari Aceh, dengan karyanya Shirȃth al-Mustaqȋm(ditulis 1634-1644M). Kemudian para ulama belakangan meneruskannya. Di Palembang, misalnya, muncul tokoh Abd al-Shamad al-Palembani, dengan karyanya Hidȃyat al-Sȃlikȋn; di Banten, lahir pula tokoh ulama (abad XIX) yang terkenal sampai ke manca negara, itulah Syekh Nawawi al-Bantani. Kemudian pada paruh pertama abad XX upaya penerjemahan Alqur′an semakin marak. Pada periode ini lahir banyak ulama tafsir semisal A.Hassan(1887-1962) dari Bandung. Karyanya Tafsir al-Furqan, sampai sekarang masih eksis. Qurȁan Kejawen dan Qurȁan Sundawiah oleh Kemajuan Islam Yogyakarta. Di Solo terbit pula Tafsir Qur′an Hidȃyat al-Rahmȃn (bahasa Jawa), buah karya Munawwar Chalil. Di Sumatera Barat lahir pula mufasir kenamaan, Mahmud Yunus(1899-1967) bersama M.A Bakri, beliau menerbitkan Tafsir Al-Qur′an al-Karim. Tahun 1959, H.Zainuddin Hamidi, cs. juga menulis Tafsir Al-Qurȁan dan K.H.Iskandar Idris, menulis Tafsir  Hibarna; sementara K.H.Bisyri Mushthafa dari Rembang menulis Tafsir al-Ibris (1960) dan pada tahun yang sama H.M.Kasim Bakri, menerbitkan pula Tafsir Al-Qurȁanul Hakim. Selanjutnya paruh kedua abad XX juga menyaksikan terbitnya kitab Tafsir al-Azhar, karya monumental Buya Hamka.[1] Begitulah aktifitas pener­jemahan atau penafsiran Alqur′an ke dalam Bahasa Indonesia, yang terdoku­men­tasikan dalam bentuk buku yang tercetak dan tertata rapi telah melewati kurun waktu yang cukup panjang, paling tidak telah berumur sekitar 5(lima) abad. Jadi tidak heran jika perkembangannya akhir-akhir ini cukup pesat; sehingga sekarang

[1]Ahsin Sakho Muhammad, Terjemah Harfiyah. Terjemah Tafsiriyyah dan Tafsir Ijmali (Makalah dipresentasikan pada Mukernas Ulama Alqur′an yang diadakan Balitbang & Diklat Kemente­rian Agama RI di NTB, Mataram, 21-23 Juni 2011), hh.5-6 ;lihat juga, Departemen Agama RI, Al-Qur′an Dan Terjemahnya,(Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur′an Dep. Agama RI.,1971), h.37.

kitab-kitab terjemahan dan tafsir Alqur′an dalam bahasa Indonesia memadati toko-toko buku dan perpustakaan lembaga-lembaga pendidikan Islam;[1] terakhir dan yang agak luas pembahasannya ialah Tafsir al-Mishbah, karya monumental Prof.M. Quraish Shihab sebanyak 15 jilid;[2] dan tafsir Departemen Agama, Al-Qurȃn Dan Tafsirnya, 10 jilid; di samping Tafsir al-Azhar, karya Buya Hamka sebagai telah disebut.

Terbitnya berbagai kitab terjemahan Alqur′an dan tafsirannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana digambarkan di atas adalah suatu yang amat positif dan sangat menggembirakan. Dari itu patut diberikan apresiasi yang tinggi. Namun di sisi lain di antara berbagai terjemahan yang dipublikasikan itu ada yang kurang memenuhi standar sehingga berpotensi mengaburkan pemahaman ayat. Hal itu terutama dikarenakan terjemahan yang diberikan tidak sejalan dengan kaedah kebahasaan dan budaya yang hidup di tengah masyarakat; baik ditinjau dari per­spektif bahasa yang diterjemahkan(bahasa asli/Arab), dan budaya yang melatar­belakanginya, maupun bahasa dan budaya dari bahasa target(sasaran) penerjemah­annya, yaitu bahasa Indonesia. Apabila hal ini tidak dijadikan pertimbangan dalam proses penerjemahan, maka kejanggalan, bahkan kekeliruan dalam suatu terjemahan sangat sulit dihindari. Hal inilah antara lain yang diingatkan oleh Prof.M.Quraish Shihab, sebagai dikatakannya:“Tidaklah tepat men-ta′wil-kan suatu ayat, semata-mata berdasarkan pertimbangan akal dan mengabaikan faktor kebahasaan yang

[1]Antara lain, lihat 1)Abd al-Ra′uf al-Fansuri al-Sinkli, Tarjumȃn al-Mustafid, (Mesir, Mushthafa al-Bȃb al-Halabȋ, 1951), cet. ke-4(selanjutnya disebut “Tarjumȃn”); 2)Mahmoed Joenoes, Tafsir Qurȁn Karim,(Jakarta, Pustaka Mahmudiah, 1954), cet. ke-5(selanjutnya disebut “Tafsir Qurȁn Karim”); 3)A.Hassan, Tafsir al-Furqan,(Bangil, 1956) (selanjutnya disebut “al-Furqan”); 4)H.Zainuddin Hamidi, cs., Tafsir Al-Qurȁan; 5)K.H.Iskandar Idris, Tafsir Hibarna; 6)K.H.Bisyri Mushthafa, Tafsir al-Ibris(1960); 7)H.M.Kasim Bakri, Tafsir Al-Qurȁanul Hakim; 8)Departemen Agama RI, Al-Qur′an Dan Terjemahnya,(Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur′an Dep. Agama RI.,1971) (selanjutnya disebut “Terjemah Depag”); 9)Syaikh Abdullah Basmeih, Tafsir Pimpinan ar-Rahman Kepada Pengertian Al-Qur′an,(Malaysia, Bagian Ugama Jabatan Perdana Menteri, 1980), cet. pertama(selanjutnya disebut “Pimpinan ar-Rahman”); 10)Hamka, Tafsir al-Azhar,(Jakarta:Pustaka Panjimas, 2001), 30 juz; 11) H. Zaini Dahlan, Qur′ȃn Karim dan Terjemahan Artinya,(Yogyakarta: UII Press, 2004) Revisi cet, ke-3(selanjutnya disebut “Terjemahan Artinya”); 12)Al-Qurȃn Dan Tafsirnya,(Jakarta: Departemen Agama RI., 2005), cet. pertama, 10 jilid(selanjutnya disebut “Tafsir Depag”);13)al-Qur′ȃn wa Tarjamah Ma’ȃnȋhi ila al-Lughat al-Indûnȋsiyyah, (Terbitan Arab Saudi, t.th) (selanjutnya disebut “Tarjamah Ma’ȃnȋhi”); 14) M.Quraish Shihab, Tafsȋr al-Mishbȃh, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), cet. ke-2 (selanjutnya disebut Tafsȋr al-Mishbȃh); 15)Al-Ustadz Muhammad Thalib, Tarjamah Tafsiriyah,(Yogyakarta, Ma’had an-Nabawi, 2013), edisi IV(selanjutnya disebut “Tarjamah Tafsiriyah”); 16)Mushaf al-Bantani al-Qur′ȃn al-Karȋm dan  Terjemahnya(Serang, MUI Provinsi Banten, 2012), cet. ke-3,(Selanjutnya disebut Mushaf al-Bantani).

[2]Selanjutnya, Quraish Shihab, Muhammad, Tafsȋr al-Mishbȃh, (Jakarta: Lentera Hati, cet. ke-2, 2009).

terdapat dalam teks ayat, lebih-lebih bila bertentangan dengan prinsip-prinsip kebahasaan. Karena hal itu berarti mengabaikan ayat itu sendiri”.

Download Materi Disini

Oleh: Nashruddin Baidan